Dia Bundaku

kerutan-kerutan lelah menghiasi wajah tua nya.
Dia bundaku yg kupandangi dlm keterlelapannya
tak terbilang beban yg dipikul dari pagi buta hingga larut menepi..

tapi sungguh ku tak mampu lagi menahan..
maaf bunda jika ku terpaksa..
ku usap lengannya dan berbisik..
“mak…kebelet pipis…!!”

(duapuluhduatahunyanglalu)

Untuk seseorang yg melupakan ku..

Dan sesungguhnya perasaan itu telah lama kupendam.
Mungkin ini saatnya ku ungkapkan isi hatiku :

” mengapa…! mengapa…! mengapa….
kau begitu tega melupakan utangmu padaku”

(utk seseorang yg melupakan ku..)