Tamasya Ketempat Nenek

Pasti langsung bingung, lho kok Tamasya ke Tempat Nenek bukannya Dear Kamu atau Diary ku, sih ?. Iya, Tamasya ke Tempat Nenek adalah tema tulisan aku dan Tulisan ini adalah Diary aku, Diary hati yg ditulis sejak tahun 1985 sampai tgl 21 July 1994 saat aku lulus sekolah lanjutan pertama (harusnya).

Yang sejak satu hari di tahun 1985 itu aku mulai ngumpulin satu persatu kenangan, momen, dan sakit nya bareng kamu. Ga lama sih sebenernya kenangan yang bener-bener dibuat bareng kamu. Selebihnya aku buat itu semua sendiri, bener-bener sendiri. Cuma aku dan hayalan aku yang selalu bermain bersama kamu.

Mulai pertengahan tahun 1987 atau 1988 kamu pindah sekolah lagi, dan kamu tulis surat ke aku.., pertama waktu ibu aku bilang ada surat dari kamu, aku ga percayanya setengah mati, aku yakin ga mungkin itu dari kamu, tapi BANG..!! teryata itu bener kamu. Ga kebayang perasaan aku waktu itu. Seneng dicampur bengong dicampur deg-degan, dicampur sedih karna inget sama SUPER SEGALA nya kamu buat aku dan sakit yang kamu pernah titipin ke aku a couple year from that day. sejak hari itu hampir tiap hari kamu rutin kirim surat ke aku dengan perantara kurir pribadi keluarga kamu, kecuali sabtu dan minggu karna di sekolah kmu sabtu merupakan hari libur, lain dengan sekolah aku yg mengharuskan sabtu masuk, yah mungkin karna sekolah aku hanya sekolah kecil yang keberadaannya pun hasil subsidi dari pemerintah.

Ga ada bahasan khusus sih waktu kita surat-suratan yang hampir setiap hari waktu itu. Tapi jujur aku seneng banget aku bisa nemenin kamu di jam-jam ngantuk kamu di sekolah, di saat-saat kmu sibuk terima tugas sekolah atau terpaksa keluar sekolah untuk praktek lapangan, dan Aku musti nunggu (dan mulai terbiasa menunggu) surat kamu yang terlambat datang. Biasanya pada saat saat keluar sekolah itu kamu lupa sama apa yg lagi kamu ceritain ke aku pada surat sebelumnya dan belum selesai cerita pula dan akhirnya engga diterusin deh ceritanya karna kamu bener-bener lupa. Hehe..

Februari 1990, Udah sebulan aku diterima kerja meski hanya sebagai pekerja kasar karna aku putus sekolah. Padahal hanya tinggal satu tahun lagi aku lulus SD. Kerja pertama aku dan gaji pertama juga. Oh iya, sejak pertama kamu kirim surat ke aku di tahun 1987 sampe Februari 1990 kita ga pernah sama sekali bertemu lho. Kita Cuma jd temen bertulis surat saja (tapi bukan Cuma sekedar teman buat aku). Ga tau kenapa, tiba-2 aja kamu ngajak ketemuan ma aku, “BANG…!!” (yang kedua). Lumayan aneh aja buat aku, yang udah mulai mengenal kamu beberapa tahun belakangan ini. Seorang “Kamu” ngajakin ketemuan ma aku. Siapa sih yang ga mau diajak ketemuan ma kamu. Tapi jujur juga waktu itu aku takut nya setengah mati, takut ga bisa kontrol perasaan aku waktu pas ketemu ma kamu. Waktu itu aku sibuk cari alasan untuk ngebatalin ketemu sama kamu karna aku yakin aku ga mampu, dan sampai akhirnya kamu bilang ketemu untuk traktiran gaji pertama aku, well.. aku ga bisa cari alesan lagi kalau untuk itu. Akhirnya kita ketemu, Aku yang biasa terlambat dan kamu tau banget tentang itu , untuk kali ini aku ga mau terlambat dan buat kamu nunggu aku kaya waktu dulu.

St. Cornelius, kita janjian di St. Cornelius. Suatu desa wisata kecil di luar kota London tempat aku bekerja sebagai pembuat Roti. Disana kita nonton Opera. Makan Soup Asparagus hangat khas desa tersebut. Lalu foto berdua ala Polaroid, itu pun atas bujuk rayu tukang poto keliling yang sejak pertama kita datang sudah menawarkan untuk berfoto.

Bener kan, aku ga bisa kontrol perasaan aku pas ketemu sama kamu. Dan aku tau Pasti aku ga bakal bisa. Nonton, aku sampe lupa dengan jalan cerita Opera yang kita tonton waktu itu, padahal aku sangat menyukai pertunjukan Opera dan selalu ingat jalan cerita dari semua Opera yang pernah aku tonton. Tapi aku ga bakal lupa ciuman pertama kamu ke aku di saat nonton Opera itu. Nakal… itu yang selalu terngiyang klo inget moment itu.

Udah malem dan aku anterin kamu pulang. Di Dokar[1] itu aku Cuma bisa wondering aja sama hal yang baru aja aku lewatin sama bintang kecil aku, “Kamu”. Sepanjang jalan aku pelukin kamu aja, dan aku bilang sama kamu klo aku lagi suka lagunya LOBO yang judulnya “How can I tell Her about You” , abis liriknya ironis bgt dan sounds like kamu gitu sih.

Setelah St. Cornelius itu, seperti biasa kamu dan aku kembali ke kesibukan masing-2. Masih tetep surat-suratan dan sekarang ditambah kirim-kirman kartu Pos bergambar. Lucu yah, setiap Kartu Pos yang kamu kirim ke aku pasti aku laminating dan aku kumpulin jadi satu buku bareng sama puisi-puisi yang aku buat di saaat ga bisa tidur, ya karna kamu. Ditahun itu juga aku kenal sama temen kamu Agatha. Ditahun itu jg aku mulai Interkom [2]-an sama kamu. Dan ditahun itu juga pertama kali kamu marah besar sama aku, lantaran Interkom-an dan kita ilang kontak masing2 selama hampir satu tahun kedepan. Hehe..

*****

Sampe akhirnya aku muncul lagi di kehidupan kamu, sebentar sih..Cuma sebetar banget dan Cuma lewat mimpi. Itu pun dengan gak ada niatan dari kamu mau ketemu sama aku. “mikirin aja gak, SUMPE DEH” kata kamu waktu itu. Lalu kita kembali sibuk dengan dunia kita masing-masing lagi sampai sekarang bahkan mungkin sampai nanti.

Bunga-bunga yang aku pakai ternyata pilihan yang tepat. Walau bukan kebiasaan aku pake bunga-bunga, tapi minimal aku bisa narik perhatian kamu dengan bunga tersebut. Yah walaupun lumayan tersiksa jg sih karna padanan untuk kemeja bunga-bunga itu minimalis sekali, pendek banget dan bertali. Huh..ga tau deh dari mana tuh celana kok bisa2 nya aku pake ato mungkin itu celana kmu yang pernah aku pinjam dulu ya, Lupa aku.., lagipula celana itu hanya aku pakai dalam mimpi aja kok.

Pada saat k mu Mimpi itu maunya sih aku ngulangin lagi kejadian pas nganterin kmu selepas nonton Opera dulu, lengkap dengan soundtrack lagu Lobo nya. Tapi kayanya bakal terlalu banyak yang di sensor nantinya oleh kamu dan aku serta Ka’ Seto (untuk kepentingan masing-masing tentunya). Jadi ya aku putusin untuk ngucapin “Take Care” aja sambil sentuh pipi kamu dengan tangan aku seperti dulu aku sering bgt belai pipi kamu klo kita ngobrol dari jarak yang sangat dekat, pastinya sambil berharap bagian terakhir tentang usap-usapan itu ga ikut tersensor.

*****

“Cerita ini adalah Kiriman teman Kita Anggoro Putra dari SDN 08 mekar sari Ciamis”. Kata Ka’ Seto.

“Yah walopun karangannya melenceng jauh dari tema Tamasya ke tempat Nenek yang kakak berikan dan jalan ceritanya masih satu arah, tapi Baguus..!” Masih kata Ka’ Seto.

“ Oh iya, Dik Anggoro kamu jgn sering nonton Film akhir pekan untuk dewasa di TVRI ya, belum waktunya. Masa karangan anak seusia kmu isinya tentang pacaran, ada sun-sun nan segala lagi, wah…nda’ boleh tuh..!” Kata Ka’ Seto lagi.

S E L E S A I ;
[T A P I A K A N B E R S A M B U N G]

Ket:
[ 1 ]. Kereta Kuda yang di kemudikan seorang kusir, Pada jaman itu masih banyak kendaraan itu di kota London hingga kepinggiran kota tersebut.
[ 2 ]. Alat Komunikasi dengan memanfaatkan frekwensi radio. Yang sedang marak-maraknya pada era tahun 80 -an hingga awal 90 –an.

SOICHIRO HONDA : "Lihat Kegagalan Saya"

Saat merintis bisnisnya Soichiro Honda selalu diliputi kegagalan.
Ia sempat jatuh sakit, kehabisan uang, dikeluarkan dari kuliah.
Namun ia trus bermimpi dan bermimpi…

Cobalah amati kendaraan yang melintasi jalan raya.
Pasti, mata Anda selalu terbentur pada Honda, baik berupa mobil
maupun motor. Merk kendaran ini menyesaki padatnya lalu lintas,
sehingga layak dijuluki “raja jalanan”.

Namun, pernahkah Anda tahu, sang pendiri “kerajaan” Honda -
Soichiro Honda – diliputi kegagalan. Ia juga tidak menyandang gelar
insinyur, lebih-lebih Profesor seperti halnya B.J. Habibie, mantan
Presiden RI. Ia bukan siswa yang memiliki otak cemerlang. Di kelas,
duduknya tidak pernah di depan, selalu menjauh dari pandangan guru.

“Nilaikujelek di sekolah. Tapi saya tidak bersedih, karena dunia
saya disekitar mesin, motor dan sepeda,” tutur tokoh ini,
yang meninggal pada usia 84 tahun, setelah dirawat di RS Juntendo,
Tokyo, akibat mengindap lever.

Kecintaannya kepada mesin, mungkin ‘warisan’ dari ayahnya yang
membuka bengkel reparasi pertanian, di dusun Kamyo, distrik Shizuko,
Jepang Tengah, tempat kelahiran Soichiro Honda. Di bengkel, ayahnya
memberi cathut (kakak tua) untuk mencabut paku. Ia juga sering
bermain di tempat penggilingan padi melihat mesin diesel yang
menjadi motor penggeraknya.

Di situ, lelaki kelahiran 17 November 1906, ini dapat berdiam diri
berjam-jam. Di usia 8 tahun, ia mengayuh sepeda sejauh 10 mil, hanya
ingin menyaksikan pesawat terbang.

Ternyata, minatnya pada mesin, tidak sia-sia. Ketika usianya 12
tahun, Honda berhasil menciptakan sebuah sepeda pancal dengan model
rem kaki. Tapi, benaknya tidak bermimpi menjadi usahawan otomotif.
Ia sadar berasal dari keluarga miskin. Apalagi fisiknya lemah, tidak
tampan, sehingga membuatnya rendah diri.

Di usia 15 tahun, Honda hijrah ke Jepang, bekerja Hart Shokai
Company. Bosnya, Saka Kibara, sangat senang melihat cara kerjanya.
Honda teliti dan cekatan dalam soal mesin. Setiap suara yang
mencurigakan, setiap oli yang bocor, tidak luput dari perhatiannya.
Enam tahun bekerja disitu, menambah wawasannya tentang permesinan.
Akhirnya, pada usia 21 tahun, bosnya mengusulkan membuka suatu
kantor cabang di Hamamatsu.
Tawaran ini tidak ditampiknya.

Di Hamamatsu prestasi kerjanya tetap membaik. Ia selalu menerima
reparasi yang ditolak oleh bengkel lain. Kerjanya pun cepat
memperbaiki

mobil pelanggan sehingga berjalan kembali. Karena itu, jam kerjanya
larut malam, dan terkadang sampai subuh. Otak jeniusnya tetap
kreatif.
Pada zaman itu, jari-jari mobil terbuat dari kayu, hingga tidak baik
meredam goncangan. Ia punya gagasan untuk menggantikan ruji-ruji itu
dengan logam. Hasilnya luarbiasa. Ruji-ruji logamnya laku keras,
dan diekspor ke seluruh dunia. Di usia 30, Honda menandatangani
patennya yang pertama.

Setelah menciptakan ruji, Honda ingin melepaskan diri dari bosnya,
membuat usaha bengkel sendiri. Ia mulai berpikir, spesialis apa yang
dipilih? Otaknya tertuju kepada pembuatan Ring Pinston, yang
dihasilkan oleh bengkelnya sendiri pada tahun 1938. Sayang, karyanya
itu ditolak oleh Toyota, karena dianggap tidak memenuhi standar. Ring
buatannya tidak lentur, dan tidak laku dijual. Ia ingat reaksi
teman-temannya terhadap kegagalan itu. Mereka menyesalkan dirinya
keluar dari bengkel.

Kuliah

Karena kegagalan itu, Honda jatuh sakit cukup serius. Dua bulan
kemudian, kesehatannya pulih kembali. Ia kembali memimpin bengkelnya.
Tapi, soal Ring Pinston itu, belum juga ada solusinya. Demi mencari
jawaban, ia kuliah lagi untuk menambah pengetahuannya tentang
mesin. Siang hari, setelah pulang kuliah – pagi hari, ia langsung ke
bengkel, mempraktekan pengetahuan yang baru diperoleh. Setelah dua
tahun menjadi mahasiswa, ia akhirnya dikeluarkan karena jarang
mengikuti kuliah.

“Saya merasa sekarat, karena ketika lapar tidak diberi makan,
melainkan dijejali penjelasan bertele-tele tentang hukum
makanan dan pengaruhnya, ” ujar Honda, yang gandrung balap mobil.
Kepada Rektornya, ia jelaskan maksudnya kuliah bukan mencari ijasah.
Melainkan pengetahuan. Penjelasan ini justru dianggap penghinaan.

Berkat kerja kerasnya, desain Ring Pinston-nya diterima. Pihak Toyota
memberikan kontrak, sehingga Honda berniat mendirikan
pabrik. Eh malangnya, niatan itu kandas. Jepang, karena siap perang,
tidak memberikan dana. Ia pun tidak kehabisan akal mengumpulkan modal
dari sekelompok orang untuk mendirikan pabrik. Lagi-lagi musibah
datang.
Setelah perang meletus, pabriknya terbakar dua kali.

Namun, Honda tidak patah semangat. Ia bergegas mengumpulkan
karyawannya.
Mereka diperintahkan mengambil sisa kaleng bensol yang dibuang oleh
kapal Amerika Serikat, digunakan sebagai bahan mendirikan pabrik.
Tanpa diduga, gempa bumi meletus menghancurkan pabriknya, sehingga
diputuskan menjual pabrik Ring Pinstonnya ke Toyota. Setelah itu,
Honda mencoba beberapa usaha lain. Sayang semuanya gagal.

Akhirnya, tahun 1947, setelah perang Jepang kekurangan bensin. Di
sini
kondisi ekonomi Jepang porak-poranda. Sampai-sampai Honda tidak dapat
menjual mobilnya untuk membeli makanan bagi keluarganya. Dalam
keadaan terdesak, ia memasang motor kecil pada sepeda.
Siapa sangka, “sepeda motor” – cikal bakal lahirnya mobil Honda – itu
diminati oleh para tetangga. Mereka berbondong-bondong memesan,
sehingga Honda kehabisan stok. Disinilah, Honda kembali
mendirikan pabrik motor.
Sejak itu, kesuksesan tak pernah lepas dari tangannya. Motor Honda
berikut mobinya, menjadi “raja” jalanan dunia, termasuk Indonesia.

Bagi Honda, janganlah melihat keberhasilan dalam menggeluti industri
otomotif. Tapi lihatlah kegagalan-kegagalan yang dialaminya.
“Orang melihat kesuksesan saya hanya satu persen. Tapi, mereka
tidak melihat 99% kegagalan saya”, tuturnya. Ia memberikan
petuah ketika Anda mengalami kegagalan, yaitu mulailah bermimpi,
mimpikanlah mimpi baru.

Kisah Honda ini, adalah contoh bahwa Suskes itu bisa diraih seseorang
dengan modal seadanya, tidak pintar di sekolah, ataupun
berasal dari keluarga miskin.
= = = = = = = = = = =

5 Resep keberhasilan Honda :
1. Selalulah berambisi dan berjiwa muda.
2. Hargailah teori yang sehat, temukan gagasan baru, khususkan waktu
memperbaiki produksi.
3. Senangilah pekerjaan Anda dan usahakan buat kondisi kerja Anda
senyaman mungkin.
4. Carilah irama kerja yang lancar dan harmonis.
5. Selalu ingat pentingnya penelitian dan kerja sama.