Toko itu bernama CHOCOLATE FOR LIFE, toko kecil yang tertata dengan manis. Hanya ada empat meja kecil, masing-masing mempunyai dua bangku kayu, dengan seluruh ruangan bertemperatur dua puluh dua derajat. Dingin Asap dari cangkir Vian menghangati wajahnya.
Sekarang aku bisa tersenyum lagi. Ya, benar. Coklat panas membuatku merasa lebih enak, kata Vian dalam hati. Medi menatap Vian dalam-dalam. Ia menghela napas seperti melepaskan sesuatu yang juga menyesakkan dadanya.
” Vi, gak adil ya, kita ngerasa kayak gini.”
Vian tersenyum dan memainkan sendoknya di coklat kental panas di depannya.
“Maksud gue, kenapa sih kita gak bisa bersama-sama terus,” lanjut Medi.
” Karena kita akan menyakiti orang yang bersama kita, Med. Kamu tahu itu,” Vian menjawabnya pelan.
Medi menatap Vian lama, seakan besok adalah akhir dunia. Vian memegang tangannya, menggenggamnya hangat.
“Med, gue gak nyesel ngerasain ini, begaimanapun sakitnya. Karena gue ga pernah nyesel kenal sama elo di airport sialan itu,” kata Vian.
Perlahan air muka Medi menghadirkan senyuman. Ia menikmati ucapan Vian yang terdengar indah di telinganya. Detik terasa berhenti, tidak ada siapa-siapa disana, bahkan pelayan toko coklat itu hilang dari pandangannya, hanya Medi, Vian dan ribuan coklat kecil dan besar serta dua cangkir coklat panas.
“Gue juga,” kata Medi menggenggam tangan Vian erat-erat. “Tau gak kenapa gue gak pernah nyesel?” kata Medi lagi.
Vian menatap mata Medi Lekat-lekat, Vian melihat mata besar yang coklat gelap itu bersinar. “Kita pergi kedua arah yang berlainan, tapi sejak dari airport tahun lalu, kamu ada di dalam sini,” kata Medi sambil mengelus dadanya sendiri.
Mereka tersenyum, tidak ada lagi keraguan dipandangan Medi, dari matanya berwarna coklat gelap, Vian melihat dirinya sendiri. Dia tahu, dia mempunyai tempat disana, seperti jiwa Medi akan terbawa bersama Vian semenjak saat itu. Saat cuaca marah sedemikian buruknya sehingga penerbangan ditunda.
Di sebuah airport tua bernama Soekarno-Hatta.
“Jadi ini terusannya gimana? What happen next, Medi?”
Medi mengangkat bahunya, ia tidak tahu jawaban pertanyaan Vian dan sebenarnya Vian pun tidak memerlukan jawaban. Vian tahu Medi akan menikahi Lena, pindah ke Belanda dan bahagia disana. Pasti, siapa pun akan bahagia bersamanya. Mungkin mereka akan mempunyai banyak anak, dan cucu, bahkan cicit.
Mungkin Medi akan hidup lama, menjadi tua dan suatu saat aku berjumpa lagi dengannya, Mungkin. TIdak ada yang tidak mungkin kecuali satu, aku mencegahnya menikahi wanita yang akan di nikahinya, tidak, tidak seperti itu. Tidak boleh menjadi begitu, pikiran Vian mengalir tenang.
“Jadi hari ini perpisahan kita?” kata Medi sambil menutupi mulutnya, seakan tidak ingin mendengar kata-katanya sendiri.
“Iya, Med, ini perpisahan kita, kamu akan mempunyai hidup yang selalu kamu impikan, besama Lena, nggak sama gue,” kata Vian sambil tersenyum. “Dan elo ga usah khawatir tentang gue, gue mau elo ngarasain kebahagian itu.” lanjut Vian lagi. “Cerita tentang Vian dan Medi di suatu airport terjebak cuaca buruk adalah cerita kita,Med, yang nggak mungkin hilang.” VIan melihat sekelilingnya. “Dan bahkan toko coklat ini adalah cerita kita, tidak ada yang bisa ngambil ini, kecuali kita membiarkan hilang perlahan-lahan. Tapi cukup sampai disitu.”
“Haruskan kita hapus,Vi?”
“Gue ga bisa ngasi tau apa yang harus elo lakukan, Med.”
“Kalau, elo?”
“Kamu akan hidup di setiap ceritaku, Med.”
Medi tersenyum.
“Dan biarkan aku dan perasaan yang kita rasain sekarang tetap hidup di dalam buku-buku yang akan kamu tulis.” Vian tertawa kecil, tapi tulus. Mata Medi terasa berat, namun ia berhasil menahan air matanya tumpah.
“Kamu tau gak, Vi,” Medi tersenyum dan berkata, ” Sekarang aku yakin dunia paralel itu bener-bener ada.” Vian kini benar-benar tertawa, ia menggeleng sambil tetap memperlihatkan barisan gigi putihnya, dia tidak bisa merapatkan bibirnya ketika mendengar perkataan Medi.
Dunia paralel, iya, filmku tentang dunia paralel adalah dunia aku dan dia.
“Dan di dunia yang lain itu juga ada Vian dan Medi,” kata Medi sambil mendekap tangan Vian dengan erat di meja. Ia mengangkatnya sehingga tangan Vian dan tangannya menggenggam di depan wajah mereka. “Tapi ceritanya beda, Vi, disana kita bener-bener bersama, pada detik ini kita memutuskan untuk pergi bersama.”
“Jauh dari sini?” tanya Vian.
“jauh, kita tinggal di pinggir pantai, pasirnya putih, lautnya biru, gak ada apa-apa disana, kecuali kamu.”
“Dan pada hari baik kadang-kadang kita melihat bintang seperti ditaruh satu per satu untuk kita,” kata Vian.
“Iya, Vi, tempat dimana matahari dan bulan bergantian menemani kita, sampai akhirnya mereka mengenal nama kita.”
“Tunggu, apa kerja kita disana?”
“Aku tetap menulis, dan kamu tetap membuat film dari buku yang aku tulis bersamamu,” kata Medi sambil tersenyum.
“Apa ceritanya, Med?”
“Apa aja, tentang dua orang yang menemukan cintanya di sebuah airport, misalnya.”
“Happy ending?”
“selalu.”
Vian tersenyum, mata tidak pernah putus dari pandangan Medi.
“Adakah tempat itu, Med?”
“Ada, Vi, kamu cuma harus percaya kalau itu ada.”
“Gimana akhirnya Vian dan Medi di dunia sana?” tanya Vian lagi.
“Mereka terus membuat puluhan buku dan film tentang dunia ini, tentang dua orang tadi, sampai akhirnya mereka meninggal tua bersama bulan dan matahari yang mengiringi kepergian mereka.”
Vian menarik tangan Medi dan menciumnya. “Andai kita bisa melihat mereka, Med, andai saja.”
Vian dan medi melepas malam itu dengan perasaan sedih, namun sesuatu telah menghibur meraka, karena meraka tahu – mereka tidak akan terpisahkan lagi.
Selamanya Vian hidup di dalam Medi, dan Medi ada di jiwa Vian, tidak ada siapa pun yang dapat mengambilnya.
“Seperti pelangi yang selalu muncul ketika matahari mengeringkan hujan,” kata Vian.
“Seperti pelangi,” jawab Medi. Pembicaraan itu ditutup dengan kecupan Medi di dahi Vian dengan lembut.
“Terima kasih, Vian, karena kamu telah hadir di hidupku.”
[DUNIA PARALEL - Micki Mahendra]