Malam Terakhir – 2005

Toko itu bernama CHOCOLATE FOR LIFE, toko kecil yang tertata dengan manis. Hanya ada empat meja kecil, masing-masing mempunyai dua bangku kayu, dengan seluruh ruangan bertemperatur dua puluh dua derajat. Dingin Asap dari cangkir Vian menghangati wajahnya.
Sekarang aku bisa tersenyum lagi. Ya, benar. Coklat panas membuatku merasa lebih enak, kata Vian dalam hati. Medi menatap Vian dalam-dalam. Ia menghela napas seperti melepaskan sesuatu yang juga menyesakkan dadanya.
” Vi, gak adil ya, kita ngerasa kayak gini.”
Vian tersenyum dan memainkan sendoknya di coklat kental panas di depannya.
“Maksud gue, kenapa sih kita gak bisa bersama-sama terus,” lanjut Medi.
” Karena kita akan menyakiti orang yang bersama kita, Med. Kamu tahu itu,” Vian menjawabnya pelan.

Medi menatap Vian lama, seakan besok adalah akhir dunia. Vian memegang tangannya, menggenggamnya hangat.
“Med, gue gak nyesel ngerasain ini, begaimanapun sakitnya. Karena gue ga pernah nyesel kenal sama elo di airport sialan itu,” kata Vian.
Perlahan air muka Medi menghadirkan senyuman. Ia menikmati ucapan Vian yang terdengar indah di telinganya. Detik terasa berhenti, tidak ada siapa-siapa disana, bahkan pelayan toko coklat itu hilang dari pandangannya, hanya Medi, Vian dan ribuan coklat kecil dan besar serta dua cangkir coklat panas.
“Gue juga,” kata Medi menggenggam tangan Vian erat-erat. “Tau gak kenapa gue gak pernah nyesel?” kata Medi lagi.
Vian menatap mata Medi Lekat-lekat, Vian melihat mata besar yang coklat gelap itu bersinar. “Kita pergi kedua arah yang berlainan, tapi sejak dari airport tahun lalu, kamu ada di dalam sini,” kata Medi sambil mengelus dadanya sendiri.
Mereka tersenyum, tidak ada lagi keraguan dipandangan Medi, dari matanya berwarna coklat gelap, Vian melihat dirinya sendiri. Dia tahu, dia mempunyai tempat disana, seperti jiwa Medi akan terbawa bersama Vian semenjak saat itu. Saat cuaca marah sedemikian buruknya sehingga penerbangan ditunda.
Di sebuah airport tua bernama Soekarno-Hatta.

“Jadi ini terusannya gimana? What happen next, Medi?”
Medi mengangkat bahunya, ia tidak tahu jawaban pertanyaan Vian dan sebenarnya Vian pun tidak memerlukan jawaban. Vian tahu Medi akan menikahi Lena, pindah ke Belanda dan bahagia disana. Pasti, siapa pun akan bahagia bersamanya. Mungkin mereka akan mempunyai banyak anak, dan cucu, bahkan cicit.
Mungkin Medi akan hidup lama, menjadi tua dan suatu saat aku berjumpa lagi dengannya, Mungkin. TIdak ada yang tidak mungkin kecuali satu, aku mencegahnya menikahi wanita yang akan di nikahinya, tidak, tidak seperti itu. Tidak boleh menjadi begitu, pikiran Vian mengalir tenang.
“Jadi hari ini perpisahan kita?” kata Medi sambil menutupi mulutnya, seakan tidak ingin mendengar kata-katanya sendiri.
“Iya, Med, ini perpisahan kita, kamu akan mempunyai hidup yang selalu kamu impikan, besama Lena, nggak sama gue,” kata Vian sambil tersenyum. “Dan elo ga usah khawatir tentang gue, gue mau elo ngarasain kebahagian itu.” lanjut Vian lagi. “Cerita tentang Vian dan Medi di suatu airport terjebak cuaca buruk adalah cerita kita,Med, yang nggak mungkin hilang.” VIan melihat sekelilingnya. “Dan bahkan toko coklat ini adalah cerita kita, tidak ada yang bisa ngambil ini, kecuali kita membiarkan hilang perlahan-lahan. Tapi cukup sampai disitu.”
“Haruskan kita hapus,Vi?”
“Gue ga bisa ngasi tau apa yang harus elo lakukan, Med.”
“Kalau, elo?”
“Kamu akan hidup di setiap ceritaku, Med.”
Medi tersenyum.
“Dan biarkan aku dan perasaan yang kita rasain sekarang tetap hidup di dalam buku-buku yang akan kamu tulis.” Vian tertawa kecil, tapi tulus. Mata Medi terasa berat, namun ia berhasil menahan air matanya tumpah.

“Kamu tau gak, Vi,” Medi tersenyum dan berkata, ” Sekarang aku yakin dunia paralel itu bener-bener ada.” Vian kini benar-benar tertawa, ia menggeleng sambil tetap memperlihatkan barisan gigi putihnya, dia tidak bisa merapatkan bibirnya ketika mendengar perkataan Medi.
Dunia paralel, iya, filmku tentang dunia paralel adalah dunia aku dan dia.
“Dan di dunia yang lain itu juga ada Vian dan Medi,” kata Medi sambil mendekap tangan Vian dengan erat di meja. Ia mengangkatnya sehingga tangan Vian dan tangannya menggenggam di depan wajah mereka. “Tapi ceritanya beda, Vi, disana kita bener-bener bersama, pada detik ini kita memutuskan untuk pergi bersama.”
“Jauh dari sini?” tanya Vian.
“jauh, kita tinggal di pinggir pantai, pasirnya putih, lautnya biru, gak ada apa-apa disana, kecuali kamu.”
“Dan pada hari baik kadang-kadang kita melihat bintang seperti ditaruh satu per satu untuk kita,” kata Vian.
“Iya, Vi, tempat dimana matahari dan bulan bergantian menemani kita, sampai akhirnya mereka mengenal nama kita.”
“Tunggu, apa kerja kita disana?”
“Aku tetap menulis, dan kamu tetap membuat film dari buku yang aku tulis bersamamu,” kata Medi sambil tersenyum.
“Apa ceritanya, Med?”
“Apa aja, tentang dua orang yang menemukan cintanya di sebuah airport, misalnya.”
Happy ending?”
“selalu.”
Vian tersenyum, mata tidak pernah putus dari pandangan Medi.

“Adakah tempat itu, Med?”
“Ada, Vi, kamu cuma harus percaya kalau itu ada.”
“Gimana akhirnya Vian dan Medi di dunia sana?” tanya Vian lagi.
“Mereka terus membuat puluhan buku dan film tentang dunia ini, tentang dua orang tadi, sampai akhirnya mereka meninggal tua bersama bulan dan matahari yang mengiringi kepergian mereka.”
Vian menarik tangan Medi dan menciumnya. “Andai kita bisa melihat mereka, Med, andai saja.”
Vian dan medi melepas malam itu dengan perasaan sedih, namun sesuatu telah menghibur meraka, karena meraka tahu – mereka tidak akan terpisahkan lagi.
Selamanya Vian hidup di dalam Medi, dan Medi ada di jiwa Vian, tidak ada siapa pun yang dapat mengambilnya.
“Seperti pelangi yang selalu muncul ketika matahari mengeringkan hujan,” kata Vian.
“Seperti pelangi,” jawab Medi. Pembicaraan itu ditutup dengan kecupan Medi di dahi Vian dengan lembut.
“Terima kasih, Vian, karena kamu telah hadir di hidupku.”

[DUNIA PARALEL - Micki Mahendra]

Surat Yang Tak Pernah Sampai

Suratmu itu tidak akan pernah terkirim, karena sebenarnya kamu hanya ingin berbicara pada dirimu sendiri. Kamu ingin berdiskusi dengan angin, dengan wangi sebelas tangkai sedap malam yang kamu beli dari tukang bunga berwajah memelas, dengan nyamuk-nyamuk yang cari makan, dengan malam, dengan detik jam… tentang dia.

Dia, yang tidak pernah kamu mengerti. Dia, racun yang membunuhmu perlahan. Dia, yang kamu reka dan kamu cipta.

Sebelah darimu menginginkan agar dia datang, membencimu hingga dia mendekati gila, menertawakan segala kebodohannya, kekhilafannya untuk sampai jatuh hati padamu, menyesalkan magis yang hadir naluriah setiap kali kalian berjumpa. Akan kamu kirimkan lagi tiket bioskop, bon restoran, semua tulisannya-dari mulai nota sebaris sampai doa berbait-bait. Dan beceklah pipinya karena geli, karena asap dan abu dari benda-benda yang ia hanguskan-bukti-bukti bahwa kalian pernah saling tergila-gila-bertebangan masuk ke matanya. Semoga ia pergi dan tak pernah menoleh lagi. HIdupmu, hidupnya, pasti akan lebih mudah.

Tapi, sebelah dari kamu menginginkan agar dia datang, menjemputmu, mengamini kalian, dan untuk kesekian kali, jatuh hati lagi, segila-gilanya, sampai batas gila dan waras pupus dalam kesadaran murni akan Cinta. kemudian mendamparkan dirilah kalian di sebuah alam tak dikenal untuk membaca ulang semua kalimat, mengenang setiap inci perjalanan, perjuangan dan ketabahan hati. Betapa sebelah darimu percaya bahwa setetes air mata pun akan terhitung, tak ada yang mengalir mubazir, segalanya pasti bermuara di satu samudra tak terbatas, Lautan merdeka yang bersanding sejajar dengan cakrawala… dan itulah tujuan kalian.


Kalau saja hidup tak ber-evolusi, kalau saja sebuah momen dapat selamanya menjadi fosil tanpa terganggu, kalau saja kekuatan kosmik mampu stagnan di satu titik, maka… tanpa ragu kamu akan memilih satu detik bersamanya untuk diabadikan. Cukup satu.

Satu detik yang segenap keberadaanya dipersembahkan untuk bersamamu, dan bukan dengan ribuan hal lain yang menanti untuk dilirik pada detik berikutnya. Betapa kamu rela membatu untuk itu.

Tapi, hidup ini cair. Semesta ini bergerak. Realitas berubah. Seluruh simpul dari kesadaran kita berkembang mekar. Hidup akan mengikis apa saja yang memilih diam, memaksa kita untuk mengikuti arus agungnya yang jujur tetapi penuh rahasia. Kamu, tidak terkecuali.

Kamu takut.

Kamu takut karena ingin jujur. Dan kejujuran menyudutkanmu untuk mengakui kamu mulai ragu.

Dialah bagian terbesar dalam hidupmu, tapi kamu cemas. Kata ’sejarah’ mulai menggantung hati-hati diatas sana. Sejarah kalian. Konsep itu menakutkan sekali.

Sejarah memiliki tampuk istimewa dalam hidup manusia, tapi tidak lagi melekat utuh pada realitas. Sejarah seperti awan yang tampak padat berisi tapi ketika disentuh menjadi embun yang rapuh.

Skenario perjalanan kalian mengharuskanmu untuk sering menyejarahkannya, merekamnya, lalu memainkannya ulang di kepalamu sebagai Sang Kekasih Impian, Sang Tujuan, Sang Inspirasi bagi segala mahakarya yang termuntahkan ke dunia. Sementara dalam setiap detik yang berjalan, kalian seperti musafir yang tersesat dipadang. Berjalan dengan kompas masing-masing, tanpa ada usaha saling mencocokkan. Sesekali kalian bertemu, berusaha saling toleransi atas nama Cinta dan Perjuangan yang Tidak Boleh Sia-sia. Kamu sudah membayar mahal untuk perjalanan ini. Kamu pertaruhkan segalanya demi apa yang kamu rasa benar. Dan mencintainya menjadi kebenaran tertinggimu.

Lama baru kamu menyadari bahwa Pengalaman merupakan bagian tak terpisahkan dari hubungan yang diikat oleh seutas perasaan mutual.

Lama bagi kamu untuk berani menoleh ke belakang, menghitung, berapa banyakkah pengalaman nyata yang kalian alami bersama ?

Sebuah hubungan yang dibiarkan tumbuh tanpa keteraturan akan menjadi hantu yang tidak menjejak bumi, dan alasan cinta yang tadinya diagungkan bisa berubah menjadi utang moral, investasi waktu, perasaan, serta perdagangan kalkulatif antara dua pihak.

Cinta butuh dipelihara. Bahwa didalam sepak-terjangnya yang serba mengejutkan, cinta ternyata masih butuh mekanisme agar mampu bertahan.

Cinta jangan selalu ditempatkan sebagai iming-iming besar, atau seperti ranjau yang tahu-tahu meledakkanmu-entah kapan dan kenapa. Cinta yang sudah dipilih sebaiknya diikutkan di setiap langkah kaki, merekatkan jemari, dan berjalanlah kalian bergandengan… karena cinta adalah mengalami.

Cinta tidak hanya pikiran dan kenangan, Lebih besar, cinta adalah dia dan kamu. Interaksi. Perkembangan dua manusia yang terpantau agar tetap harmonis. Karena cinta pun hidup bukan cuma maskot untuk disembah sujud.

Kamu ingin berhenti memencet tombol tunda. Kamu ingin berhenti menyumbat denyut alami hidup dan membiarkannya bergulir tanpa beban.
Dan kamu tahu, itulah yang tidak bisa dia berikan kini. Hingga akhirnya…

Di meja itu, kamu dikelilingi tulisan tangannya yang tersisa ( kamu baru sadar betapa tidak adilnya ini semua. Kenapa harus kamu yang kebagian tugas dokumentasi dan arsip, sehingga cuma kamulah yang tersiksa?).
Jangan heran kalau kamu menangis sejadi-jadinya.
Dia, yang tidak pernah menyimpan gambar rupamu, pasti tidak tahu apa rasanya menatap lekat-lekat satu sosok, membayangkan rasa sentuh dari helai rambut yang polos tanpa busa pengeras, rasa hangat uap tubuh yang kamu hafal betul temperaturnya.

Dan kamu hanya bisa berbagi kesedihan itu, ketidak-relaan itu, kelemahan itu, dengan wangi bunga yang melangu, dengan nyamuk-nyamuk yang putus asa, dengan malam yang pasrah digusur pagi, dengan detik jam dinding yang gagu karena habis daya.

Sampai pada halaman kedua suratmu, kamu yakin dia akan paham, atau setidaknya setenagh memahami, betapa sulitnya perpisahan yang dilakukan sendirian.

Tidak ada sepasang mata lain yang mampu meyakinkanmu bahwa ini memang sudah usai. Tidak ada kata, peluk, cium, atau langkah kaki beranjak pergi, yang mampu menjadi penanda dramatis bahwa sebuah akhir telah diputuskan bersama.

Atau sebaliknya, tidak ada sergahan yang membuatmu berubah pikiran, tidak ada kata ‘jangan’ yang mungkin, apabila diucapkan dan ditindakkan dengan tepat, akan membuatmu menghambur kembali dan tak mau pergi lagi.

kamu pun tersadar, itulah perpisahan paling sepi yang pernah kamu alami.

Ketika surat itu tiba di titiknya yang terakhir, masih akan ada sejumput kamu yang bertengger tak mau pergi dari perbatasan usai dan tidak usai. Bagian dari dirimu yang merasa paling bertanggung jawab atas semua yang sudah kalian bayarkan bersama demi mengalami perjalanan hati sedahsyat itu. Dirimu yang mini, tapi keras kepala, memilih untuk tidak ikut pergi bersama yang lain, menetap untuk terus menemani sejarah. Dan karena waktu semakin larut, tenagamu pun sudah menyurut, maka kamu akan membiarkan si kecil itu bertahan semaunya.

Mungkin, suatu saat, apabila sekelumit dirimu itu mulai kesepian dan bosan, ia akan berteriak-teriak ingin pulang. Dan kamu akan menjemputnya, lalu membiarkan sejarah membentengi dirinya dengan tembok tebal yang tak lagi bisa ditembus. Atau mungkin, ketika sebuah keajaiban mampu menguak kekeruhan ini, jadilah ia semacam mercusuar, kompas, Bintang Selatan… yang menunjukan jalan pulang bagi hatimu untuk, akhirnya, menemuiku.

Aku, yang merasakan apa yang kau rasakan. Yang mendambakan untuk mengalami. Aku, yang telah menuliskan surat-surat cinta padamu. Surat-surat yang tak pernah sampai.

[ FILOSOFI KOPI - Dee ]