Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Tamasya Ketempat Nenek ( 2 )

A Comment to "MANUSIA PEREMPUAN"

Kenapa lebih ingin menjadi MANUSIA PEREMPUAN dari pada hanya menjadi PEREMPUAN ?, Kenapa tidak menjadi PEREMPUAN saja ketimbang menjadi MANUSIA tetapi PEREMPUAN. Bukankah PEREMPUAN lebih hakiki, lebih mutlak, lebih objektif ketimbang hanya sebagai subspesies dari OBJEK berbentuk MANUSIA ? Bukankah menjadi PEREMPUAN itu sudah lebih dari lengkap, lebih menjadi bagian dari semesta ketimbang menjadi PEREMPUAN yang eksistensi semestanya terwakili oleh objek MANUSIA?.


Mungkin Ibu memberi nama W A N I T A karna ingin maha karya beliau dapat menjadi PEREMPUAN, dapat menjadi bagian nyata dari Dunia, dapat menjadi salah satu partikel utama yang turut menopang Semesta. Bukan hanya sekedar MANUSIA PEREMPUAN yang eksistensinya musti dibatasi dan terwakili oleh MANUSIA yang notabenenya MANUSIA itu terdiri dari PEREMPUAN dan LAKI-LAKI.

Lalu kenapa harus melepas jati diri dengan mencinta secara pikiran, kenapa tidak kau maksimalkan saja jati diri kaummu yang mencinta secara Perasaan. Bukankah itu uniqe yang tidak di miliki oleh penyandang label MANUSIA lainnya yang berbentuk LAKI-LAKI ?

Lengkapilah warna semesta dengan Perasaan mu, dari pada kamu berebut untuk melengkapi Dunia dengan PIKIRAN ala MANUSIA LAKI-LAKI.

Karna merah pada pelangi pun tidak pernah ingin menjadi Kuningnnya Pelangi, bukan ?

Dan mungkin karna itu pula Beliau menamakanmu W A N I T A , agar menjadi warna pada Semesta.

Bukan.. ?

(Filosofi Putar Balik Kata)

Tamasya Ketempat Nenek

Pasti langsung bingung, lho kok Tamasya ke Tempat Nenek bukannya Dear Kamu atau Diary ku, sih ?. Iya, Tamasya ke Tempat Nenek adalah tema tulisan aku dan Tulisan ini adalah Diary aku, Diary hati yg ditulis sejak tahun 1985 sampai tgl 21 July 1994 saat aku lulus sekolah lanjutan pertama (harusnya).

Yang sejak satu hari di tahun 1985 itu aku mulai ngumpulin satu persatu kenangan, momen, dan sakit nya bareng kamu. Ga lama sih sebenernya kenangan yang bener-bener dibuat bareng kamu. Selebihnya aku buat itu semua sendiri, bener-bener sendiri. Cuma aku dan hayalan aku yang selalu bermain bersama kamu.

Mulai pertengahan tahun 1987 atau 1988 kamu pindah sekolah lagi, dan kamu tulis surat ke aku.., pertama waktu ibu aku bilang ada surat dari kamu, aku ga percayanya setengah mati, aku yakin ga mungkin itu dari kamu, tapi BANG..!! teryata itu bener kamu. Ga kebayang perasaan aku waktu itu. Seneng dicampur bengong dicampur deg-degan, dicampur sedih karna inget sama SUPER SEGALA nya kamu buat aku dan sakit yang kamu pernah titipin ke aku a couple year from that day. sejak hari itu hampir tiap hari kamu rutin kirim surat ke aku dengan perantara kurir pribadi keluarga kamu, kecuali sabtu dan minggu karna di sekolah kmu sabtu merupakan hari libur, lain dengan sekolah aku yg mengharuskan sabtu masuk, yah mungkin karna sekolah aku hanya sekolah kecil yang keberadaannya pun hasil subsidi dari pemerintah.

Ga ada bahasan khusus sih waktu kita surat-suratan yang hampir setiap hari waktu itu. Tapi jujur aku seneng banget aku bisa nemenin kamu di jam-jam ngantuk kamu di sekolah, di saat-saat kmu sibuk terima tugas sekolah atau terpaksa keluar sekolah untuk praktek lapangan, dan Aku musti nunggu (dan mulai terbiasa menunggu) surat kamu yang terlambat datang. Biasanya pada saat saat keluar sekolah itu kamu lupa sama apa yg lagi kamu ceritain ke aku pada surat sebelumnya dan belum selesai cerita pula dan akhirnya engga diterusin deh ceritanya karna kamu bener-bener lupa. Hehe..

Februari 1990, Udah sebulan aku diterima kerja meski hanya sebagai pekerja kasar karna aku putus sekolah. Padahal hanya tinggal satu tahun lagi aku lulus SD. Kerja pertama aku dan gaji pertama juga. Oh iya, sejak pertama kamu kirim surat ke aku di tahun 1987 sampe Februari 1990 kita ga pernah sama sekali bertemu lho. Kita Cuma jd temen bertulis surat saja (tapi bukan Cuma sekedar teman buat aku). Ga tau kenapa, tiba-2 aja kamu ngajak ketemuan ma aku, “BANG…!!” (yang kedua). Lumayan aneh aja buat aku, yang udah mulai mengenal kamu beberapa tahun belakangan ini. Seorang “Kamu” ngajakin ketemuan ma aku. Siapa sih yang ga mau diajak ketemuan ma kamu. Tapi jujur juga waktu itu aku takut nya setengah mati, takut ga bisa kontrol perasaan aku waktu pas ketemu ma kamu. Waktu itu aku sibuk cari alasan untuk ngebatalin ketemu sama kamu karna aku yakin aku ga mampu, dan sampai akhirnya kamu bilang ketemu untuk traktiran gaji pertama aku, well.. aku ga bisa cari alesan lagi kalau untuk itu. Akhirnya kita ketemu, Aku yang biasa terlambat dan kamu tau banget tentang itu , untuk kali ini aku ga mau terlambat dan buat kamu nunggu aku kaya waktu dulu.

St. Cornelius, kita janjian di St. Cornelius. Suatu desa wisata kecil di luar kota London tempat aku bekerja sebagai pembuat Roti. Disana kita nonton Opera. Makan Soup Asparagus hangat khas desa tersebut. Lalu foto berdua ala Polaroid, itu pun atas bujuk rayu tukang poto keliling yang sejak pertama kita datang sudah menawarkan untuk berfoto.

Bener kan, aku ga bisa kontrol perasaan aku pas ketemu sama kamu. Dan aku tau Pasti aku ga bakal bisa. Nonton, aku sampe lupa dengan jalan cerita Opera yang kita tonton waktu itu, padahal aku sangat menyukai pertunjukan Opera dan selalu ingat jalan cerita dari semua Opera yang pernah aku tonton. Tapi aku ga bakal lupa ciuman pertama kamu ke aku di saat nonton Opera itu. Nakal… itu yang selalu terngiyang klo inget moment itu.

Udah malem dan aku anterin kamu pulang. Di Dokar[1] itu aku Cuma bisa wondering aja sama hal yang baru aja aku lewatin sama bintang kecil aku, “Kamu”. Sepanjang jalan aku pelukin kamu aja, dan aku bilang sama kamu klo aku lagi suka lagunya LOBO yang judulnya “How can I tell Her about You” , abis liriknya ironis bgt dan sounds like kamu gitu sih.

Setelah St. Cornelius itu, seperti biasa kamu dan aku kembali ke kesibukan masing-2. Masih tetep surat-suratan dan sekarang ditambah kirim-kirman kartu Pos bergambar. Lucu yah, setiap Kartu Pos yang kamu kirim ke aku pasti aku laminating dan aku kumpulin jadi satu buku bareng sama puisi-puisi yang aku buat di saaat ga bisa tidur, ya karna kamu. Ditahun itu juga aku kenal sama temen kamu Agatha. Ditahun itu jg aku mulai Interkom [2]-an sama kamu. Dan ditahun itu juga pertama kali kamu marah besar sama aku, lantaran Interkom-an dan kita ilang kontak masing2 selama hampir satu tahun kedepan. Hehe..

*****

Sampe akhirnya aku muncul lagi di kehidupan kamu, sebentar sih..Cuma sebetar banget dan Cuma lewat mimpi. Itu pun dengan gak ada niatan dari kamu mau ketemu sama aku. “mikirin aja gak, SUMPE DEH” kata kamu waktu itu. Lalu kita kembali sibuk dengan dunia kita masing-masing lagi sampai sekarang bahkan mungkin sampai nanti.

Bunga-bunga yang aku pakai ternyata pilihan yang tepat. Walau bukan kebiasaan aku pake bunga-bunga, tapi minimal aku bisa narik perhatian kamu dengan bunga tersebut. Yah walaupun lumayan tersiksa jg sih karna padanan untuk kemeja bunga-bunga itu minimalis sekali, pendek banget dan bertali. Huh..ga tau deh dari mana tuh celana kok bisa2 nya aku pake ato mungkin itu celana kmu yang pernah aku pinjam dulu ya, Lupa aku.., lagipula celana itu hanya aku pakai dalam mimpi aja kok.

Pada saat k mu Mimpi itu maunya sih aku ngulangin lagi kejadian pas nganterin kmu selepas nonton Opera dulu, lengkap dengan soundtrack lagu Lobo nya. Tapi kayanya bakal terlalu banyak yang di sensor nantinya oleh kamu dan aku serta Ka’ Seto (untuk kepentingan masing-masing tentunya). Jadi ya aku putusin untuk ngucapin “Take Care” aja sambil sentuh pipi kamu dengan tangan aku seperti dulu aku sering bgt belai pipi kamu klo kita ngobrol dari jarak yang sangat dekat, pastinya sambil berharap bagian terakhir tentang usap-usapan itu ga ikut tersensor.

*****

“Cerita ini adalah Kiriman teman Kita Anggoro Putra dari SDN 08 mekar sari Ciamis”. Kata Ka’ Seto.

“Yah walopun karangannya melenceng jauh dari tema Tamasya ke tempat Nenek yang kakak berikan dan jalan ceritanya masih satu arah, tapi Baguus..!” Masih kata Ka’ Seto.

“ Oh iya, Dik Anggoro kamu jgn sering nonton Film akhir pekan untuk dewasa di TVRI ya, belum waktunya. Masa karangan anak seusia kmu isinya tentang pacaran, ada sun-sun nan segala lagi, wah…nda’ boleh tuh..!” Kata Ka’ Seto lagi.

S E L E S A I ;
[T A P I A K A N B E R S A M B U N G]

Ket:
[ 1 ]. Kereta Kuda yang di kemudikan seorang kusir, Pada jaman itu masih banyak kendaraan itu di kota London hingga kepinggiran kota tersebut.
[ 2 ]. Alat Komunikasi dengan memanfaatkan frekwensi radio. Yang sedang marak-maraknya pada era tahun 80 -an hingga awal 90 –an.

SOICHIRO HONDA : "Lihat Kegagalan Saya"

Saat merintis bisnisnya Soichiro Honda selalu diliputi kegagalan.
Ia sempat jatuh sakit, kehabisan uang, dikeluarkan dari kuliah.
Namun ia trus bermimpi dan bermimpi…

Cobalah amati kendaraan yang melintasi jalan raya.
Pasti, mata Anda selalu terbentur pada Honda, baik berupa mobil
maupun motor. Merk kendaran ini menyesaki padatnya lalu lintas,
sehingga layak dijuluki “raja jalanan”.

Namun, pernahkah Anda tahu, sang pendiri “kerajaan” Honda –
Soichiro Honda – diliputi kegagalan. Ia juga tidak menyandang gelar
insinyur, lebih-lebih Profesor seperti halnya B.J. Habibie, mantan
Presiden RI. Ia bukan siswa yang memiliki otak cemerlang. Di kelas,
duduknya tidak pernah di depan, selalu menjauh dari pandangan guru.

“Nilaikujelek di sekolah. Tapi saya tidak bersedih, karena dunia
saya disekitar mesin, motor dan sepeda,” tutur tokoh ini,
yang meninggal pada usia 84 tahun, setelah dirawat di RS Juntendo,
Tokyo, akibat mengindap lever.

Kecintaannya kepada mesin, mungkin ‘warisan’ dari ayahnya yang
membuka bengkel reparasi pertanian, di dusun Kamyo, distrik Shizuko,
Jepang Tengah, tempat kelahiran Soichiro Honda. Di bengkel, ayahnya
memberi cathut (kakak tua) untuk mencabut paku. Ia juga sering
bermain di tempat penggilingan padi melihat mesin diesel yang
menjadi motor penggeraknya.

Di situ, lelaki kelahiran 17 November 1906, ini dapat berdiam diri
berjam-jam. Di usia 8 tahun, ia mengayuh sepeda sejauh 10 mil, hanya
ingin menyaksikan pesawat terbang.

Ternyata, minatnya pada mesin, tidak sia-sia. Ketika usianya 12
tahun, Honda berhasil menciptakan sebuah sepeda pancal dengan model
rem kaki. Tapi, benaknya tidak bermimpi menjadi usahawan otomotif.
Ia sadar berasal dari keluarga miskin. Apalagi fisiknya lemah, tidak
tampan, sehingga membuatnya rendah diri.

Di usia 15 tahun, Honda hijrah ke Jepang, bekerja Hart Shokai
Company. Bosnya, Saka Kibara, sangat senang melihat cara kerjanya.
Honda teliti dan cekatan dalam soal mesin. Setiap suara yang
mencurigakan, setiap oli yang bocor, tidak luput dari perhatiannya.
Enam tahun bekerja disitu, menambah wawasannya tentang permesinan.
Akhirnya, pada usia 21 tahun, bosnya mengusulkan membuka suatu
kantor cabang di Hamamatsu.
Tawaran ini tidak ditampiknya.

Di Hamamatsu prestasi kerjanya tetap membaik. Ia selalu menerima
reparasi yang ditolak oleh bengkel lain. Kerjanya pun cepat
memperbaiki

mobil pelanggan sehingga berjalan kembali. Karena itu, jam kerjanya
larut malam, dan terkadang sampai subuh. Otak jeniusnya tetap
kreatif.
Pada zaman itu, jari-jari mobil terbuat dari kayu, hingga tidak baik
meredam goncangan. Ia punya gagasan untuk menggantikan ruji-ruji itu
dengan logam. Hasilnya luarbiasa. Ruji-ruji logamnya laku keras,
dan diekspor ke seluruh dunia. Di usia 30, Honda menandatangani
patennya yang pertama.

Setelah menciptakan ruji, Honda ingin melepaskan diri dari bosnya,
membuat usaha bengkel sendiri. Ia mulai berpikir, spesialis apa yang
dipilih? Otaknya tertuju kepada pembuatan Ring Pinston, yang
dihasilkan oleh bengkelnya sendiri pada tahun 1938. Sayang, karyanya
itu ditolak oleh Toyota, karena dianggap tidak memenuhi standar. Ring
buatannya tidak lentur, dan tidak laku dijual. Ia ingat reaksi
teman-temannya terhadap kegagalan itu. Mereka menyesalkan dirinya
keluar dari bengkel.

Kuliah

Karena kegagalan itu, Honda jatuh sakit cukup serius. Dua bulan
kemudian, kesehatannya pulih kembali. Ia kembali memimpin bengkelnya.
Tapi, soal Ring Pinston itu, belum juga ada solusinya. Demi mencari
jawaban, ia kuliah lagi untuk menambah pengetahuannya tentang
mesin. Siang hari, setelah pulang kuliah – pagi hari, ia langsung ke
bengkel, mempraktekan pengetahuan yang baru diperoleh. Setelah dua
tahun menjadi mahasiswa, ia akhirnya dikeluarkan karena jarang
mengikuti kuliah.

“Saya merasa sekarat, karena ketika lapar tidak diberi makan,
melainkan dijejali penjelasan bertele-tele tentang hukum
makanan dan pengaruhnya, ” ujar Honda, yang gandrung balap mobil.
Kepada Rektornya, ia jelaskan maksudnya kuliah bukan mencari ijasah.
Melainkan pengetahuan. Penjelasan ini justru dianggap penghinaan.

Berkat kerja kerasnya, desain Ring Pinston-nya diterima. Pihak Toyota
memberikan kontrak, sehingga Honda berniat mendirikan
pabrik. Eh malangnya, niatan itu kandas. Jepang, karena siap perang,
tidak memberikan dana. Ia pun tidak kehabisan akal mengumpulkan modal
dari sekelompok orang untuk mendirikan pabrik. Lagi-lagi musibah
datang.
Setelah perang meletus, pabriknya terbakar dua kali.

Namun, Honda tidak patah semangat. Ia bergegas mengumpulkan
karyawannya.
Mereka diperintahkan mengambil sisa kaleng bensol yang dibuang oleh
kapal Amerika Serikat, digunakan sebagai bahan mendirikan pabrik.
Tanpa diduga, gempa bumi meletus menghancurkan pabriknya, sehingga
diputuskan menjual pabrik Ring Pinstonnya ke Toyota. Setelah itu,
Honda mencoba beberapa usaha lain. Sayang semuanya gagal.

Akhirnya, tahun 1947, setelah perang Jepang kekurangan bensin. Di
sini
kondisi ekonomi Jepang porak-poranda. Sampai-sampai Honda tidak dapat
menjual mobilnya untuk membeli makanan bagi keluarganya. Dalam
keadaan terdesak, ia memasang motor kecil pada sepeda.
Siapa sangka, “sepeda motor” – cikal bakal lahirnya mobil Honda – itu
diminati oleh para tetangga. Mereka berbondong-bondong memesan,
sehingga Honda kehabisan stok. Disinilah, Honda kembali
mendirikan pabrik motor.
Sejak itu, kesuksesan tak pernah lepas dari tangannya. Motor Honda
berikut mobinya, menjadi “raja” jalanan dunia, termasuk Indonesia.

Bagi Honda, janganlah melihat keberhasilan dalam menggeluti industri
otomotif. Tapi lihatlah kegagalan-kegagalan yang dialaminya.
“Orang melihat kesuksesan saya hanya satu persen. Tapi, mereka
tidak melihat 99% kegagalan saya”, tuturnya. Ia memberikan
petuah ketika Anda mengalami kegagalan, yaitu mulailah bermimpi,
mimpikanlah mimpi baru.

Kisah Honda ini, adalah contoh bahwa Suskes itu bisa diraih seseorang
dengan modal seadanya, tidak pintar di sekolah, ataupun
berasal dari keluarga miskin.
= = = = = = = = = = =

5 Resep keberhasilan Honda :
1. Selalulah berambisi dan berjiwa muda.
2. Hargailah teori yang sehat, temukan gagasan baru, khususkan waktu
memperbaiki produksi.
3. Senangilah pekerjaan Anda dan usahakan buat kondisi kerja Anda
senyaman mungkin.
4. Carilah irama kerja yang lancar dan harmonis.
5. Selalu ingat pentingnya penelitian dan kerja sama.

Malam Terakhir – 2005

Toko itu bernama CHOCOLATE FOR LIFE, toko kecil yang tertata dengan manis. Hanya ada empat meja kecil, masing-masing mempunyai dua bangku kayu, dengan seluruh ruangan bertemperatur dua puluh dua derajat. Dingin Asap dari cangkir Vian menghangati wajahnya.
Sekarang aku bisa tersenyum lagi. Ya, benar. Coklat panas membuatku merasa lebih enak, kata Vian dalam hati. Medi menatap Vian dalam-dalam. Ia menghela napas seperti melepaskan sesuatu yang juga menyesakkan dadanya.
” Vi, gak adil ya, kita ngerasa kayak gini.”
Vian tersenyum dan memainkan sendoknya di coklat kental panas di depannya.
“Maksud gue, kenapa sih kita gak bisa bersama-sama terus,” lanjut Medi.
” Karena kita akan menyakiti orang yang bersama kita, Med. Kamu tahu itu,” Vian menjawabnya pelan.

Medi menatap Vian lama, seakan besok adalah akhir dunia. Vian memegang tangannya, menggenggamnya hangat.
“Med, gue gak nyesel ngerasain ini, begaimanapun sakitnya. Karena gue ga pernah nyesel kenal sama elo di airport sialan itu,” kata Vian.
Perlahan air muka Medi menghadirkan senyuman. Ia menikmati ucapan Vian yang terdengar indah di telinganya. Detik terasa berhenti, tidak ada siapa-siapa disana, bahkan pelayan toko coklat itu hilang dari pandangannya, hanya Medi, Vian dan ribuan coklat kecil dan besar serta dua cangkir coklat panas.
“Gue juga,” kata Medi menggenggam tangan Vian erat-erat. “Tau gak kenapa gue gak pernah nyesel?” kata Medi lagi.
Vian menatap mata Medi Lekat-lekat, Vian melihat mata besar yang coklat gelap itu bersinar. “Kita pergi kedua arah yang berlainan, tapi sejak dari airport tahun lalu, kamu ada di dalam sini,” kata Medi sambil mengelus dadanya sendiri.
Mereka tersenyum, tidak ada lagi keraguan dipandangan Medi, dari matanya berwarna coklat gelap, Vian melihat dirinya sendiri. Dia tahu, dia mempunyai tempat disana, seperti jiwa Medi akan terbawa bersama Vian semenjak saat itu. Saat cuaca marah sedemikian buruknya sehingga penerbangan ditunda.
Di sebuah airport tua bernama Soekarno-Hatta.

“Jadi ini terusannya gimana? What happen next, Medi?”
Medi mengangkat bahunya, ia tidak tahu jawaban pertanyaan Vian dan sebenarnya Vian pun tidak memerlukan jawaban. Vian tahu Medi akan menikahi Lena, pindah ke Belanda dan bahagia disana. Pasti, siapa pun akan bahagia bersamanya. Mungkin mereka akan mempunyai banyak anak, dan cucu, bahkan cicit.
Mungkin Medi akan hidup lama, menjadi tua dan suatu saat aku berjumpa lagi dengannya, Mungkin. TIdak ada yang tidak mungkin kecuali satu, aku mencegahnya menikahi wanita yang akan di nikahinya, tidak, tidak seperti itu. Tidak boleh menjadi begitu, pikiran Vian mengalir tenang.
“Jadi hari ini perpisahan kita?” kata Medi sambil menutupi mulutnya, seakan tidak ingin mendengar kata-katanya sendiri.
“Iya, Med, ini perpisahan kita, kamu akan mempunyai hidup yang selalu kamu impikan, besama Lena, nggak sama gue,” kata Vian sambil tersenyum. “Dan elo ga usah khawatir tentang gue, gue mau elo ngarasain kebahagian itu.” lanjut Vian lagi. “Cerita tentang Vian dan Medi di suatu airport terjebak cuaca buruk adalah cerita kita,Med, yang nggak mungkin hilang.” VIan melihat sekelilingnya. “Dan bahkan toko coklat ini adalah cerita kita, tidak ada yang bisa ngambil ini, kecuali kita membiarkan hilang perlahan-lahan. Tapi cukup sampai disitu.”
“Haruskan kita hapus,Vi?”
“Gue ga bisa ngasi tau apa yang harus elo lakukan, Med.”
“Kalau, elo?”
“Kamu akan hidup di setiap ceritaku, Med.”
Medi tersenyum.
“Dan biarkan aku dan perasaan yang kita rasain sekarang tetap hidup di dalam buku-buku yang akan kamu tulis.” Vian tertawa kecil, tapi tulus. Mata Medi terasa berat, namun ia berhasil menahan air matanya tumpah.

“Kamu tau gak, Vi,” Medi tersenyum dan berkata, ” Sekarang aku yakin dunia paralel itu bener-bener ada.” Vian kini benar-benar tertawa, ia menggeleng sambil tetap memperlihatkan barisan gigi putihnya, dia tidak bisa merapatkan bibirnya ketika mendengar perkataan Medi.
Dunia paralel, iya, filmku tentang dunia paralel adalah dunia aku dan dia.
“Dan di dunia yang lain itu juga ada Vian dan Medi,” kata Medi sambil mendekap tangan Vian dengan erat di meja. Ia mengangkatnya sehingga tangan Vian dan tangannya menggenggam di depan wajah mereka. “Tapi ceritanya beda, Vi, disana kita bener-bener bersama, pada detik ini kita memutuskan untuk pergi bersama.”
“Jauh dari sini?” tanya Vian.
“jauh, kita tinggal di pinggir pantai, pasirnya putih, lautnya biru, gak ada apa-apa disana, kecuali kamu.”
“Dan pada hari baik kadang-kadang kita melihat bintang seperti ditaruh satu per satu untuk kita,” kata Vian.
“Iya, Vi, tempat dimana matahari dan bulan bergantian menemani kita, sampai akhirnya mereka mengenal nama kita.”
“Tunggu, apa kerja kita disana?”
“Aku tetap menulis, dan kamu tetap membuat film dari buku yang aku tulis bersamamu,” kata Medi sambil tersenyum.
“Apa ceritanya, Med?”
“Apa aja, tentang dua orang yang menemukan cintanya di sebuah airport, misalnya.”
Happy ending?”
“selalu.”
Vian tersenyum, mata tidak pernah putus dari pandangan Medi.

“Adakah tempat itu, Med?”
“Ada, Vi, kamu cuma harus percaya kalau itu ada.”
“Gimana akhirnya Vian dan Medi di dunia sana?” tanya Vian lagi.
“Mereka terus membuat puluhan buku dan film tentang dunia ini, tentang dua orang tadi, sampai akhirnya mereka meninggal tua bersama bulan dan matahari yang mengiringi kepergian mereka.”
Vian menarik tangan Medi dan menciumnya. “Andai kita bisa melihat mereka, Med, andai saja.”
Vian dan medi melepas malam itu dengan perasaan sedih, namun sesuatu telah menghibur meraka, karena meraka tahu – mereka tidak akan terpisahkan lagi.
Selamanya Vian hidup di dalam Medi, dan Medi ada di jiwa Vian, tidak ada siapa pun yang dapat mengambilnya.
“Seperti pelangi yang selalu muncul ketika matahari mengeringkan hujan,” kata Vian.
“Seperti pelangi,” jawab Medi. Pembicaraan itu ditutup dengan kecupan Medi di dahi Vian dengan lembut.
“Terima kasih, Vian, karena kamu telah hadir di hidupku.”

[DUNIA PARALEL – Micki Mahendra]

The Calling – Wherever You Will Go

So lately, I’ve been wonderin
Who will be there to take my place
When I’m gone, you’ll need love
To light the shadows on your face
If a great wave should fall
It would fall upon us all
And between the sand and stone
Could you make it on your own


If I could, then I would
I’ll go wherever you will go
Way up high or down low
I’ll go wherever you will go

And maybe, I’ll find out
The way to make it back someday
To watch you, to guide you
Through the darkest of your days
If a great wave should fall
It would fall upon us all
Well I hope there’s someone out there
Who can bring me back to you

If I could, then I would
I’ll go wherever you will go
Way up high or down low
I’ll go wherever you will go

Runaway with my heart
Runaway with my hope
Runaway with my love

I know now, just quite how
My life and love might still go on
In your heart and your mind
I’ll stay with you for all of time

If I could, then I would
I’ll go wherever you will go
Way up high or down low
I’ll go wherever you will go

Dia Bundaku

kerutan-kerutan lelah menghiasi wajah tua nya.
Dia bundaku yg kupandangi dlm keterlelapannya
tak terbilang beban yg dipikul dari pagi buta hingga larut menepi..

tapi sungguh ku tak mampu lagi menahan..
maaf bunda jika ku terpaksa..
ku usap lengannya dan berbisik..
“mak…kebelet pipis…!!”

(duapuluhduatahunyanglalu)

Untuk seseorang yg melupakan ku..

Dan sesungguhnya perasaan itu telah lama kupendam.
Mungkin ini saatnya ku ungkapkan isi hatiku :

” mengapa…! mengapa…! mengapa….
kau begitu tega melupakan utangmu padaku”

(utk seseorang yg melupakan ku..)

Surat Yang Tak Pernah Sampai

Suratmu itu tidak akan pernah terkirim, karena sebenarnya kamu hanya ingin berbicara pada dirimu sendiri. Kamu ingin berdiskusi dengan angin, dengan wangi sebelas tangkai sedap malam yang kamu beli dari tukang bunga berwajah memelas, dengan nyamuk-nyamuk yang cari makan, dengan malam, dengan detik jam… tentang dia.

Dia, yang tidak pernah kamu mengerti. Dia, racun yang membunuhmu perlahan. Dia, yang kamu reka dan kamu cipta.

Sebelah darimu menginginkan agar dia datang, membencimu hingga dia mendekati gila, menertawakan segala kebodohannya, kekhilafannya untuk sampai jatuh hati padamu, menyesalkan magis yang hadir naluriah setiap kali kalian berjumpa. Akan kamu kirimkan lagi tiket bioskop, bon restoran, semua tulisannya-dari mulai nota sebaris sampai doa berbait-bait. Dan beceklah pipinya karena geli, karena asap dan abu dari benda-benda yang ia hanguskan-bukti-bukti bahwa kalian pernah saling tergila-gila-bertebangan masuk ke matanya. Semoga ia pergi dan tak pernah menoleh lagi. HIdupmu, hidupnya, pasti akan lebih mudah.

Tapi, sebelah dari kamu menginginkan agar dia datang, menjemputmu, mengamini kalian, dan untuk kesekian kali, jatuh hati lagi, segila-gilanya, sampai batas gila dan waras pupus dalam kesadaran murni akan Cinta. kemudian mendamparkan dirilah kalian di sebuah alam tak dikenal untuk membaca ulang semua kalimat, mengenang setiap inci perjalanan, perjuangan dan ketabahan hati. Betapa sebelah darimu percaya bahwa setetes air mata pun akan terhitung, tak ada yang mengalir mubazir, segalanya pasti bermuara di satu samudra tak terbatas, Lautan merdeka yang bersanding sejajar dengan cakrawala… dan itulah tujuan kalian.


Kalau saja hidup tak ber-evolusi, kalau saja sebuah momen dapat selamanya menjadi fosil tanpa terganggu, kalau saja kekuatan kosmik mampu stagnan di satu titik, maka… tanpa ragu kamu akan memilih satu detik bersamanya untuk diabadikan. Cukup satu.

Satu detik yang segenap keberadaanya dipersembahkan untuk bersamamu, dan bukan dengan ribuan hal lain yang menanti untuk dilirik pada detik berikutnya. Betapa kamu rela membatu untuk itu.

Tapi, hidup ini cair. Semesta ini bergerak. Realitas berubah. Seluruh simpul dari kesadaran kita berkembang mekar. Hidup akan mengikis apa saja yang memilih diam, memaksa kita untuk mengikuti arus agungnya yang jujur tetapi penuh rahasia. Kamu, tidak terkecuali.

Kamu takut.

Kamu takut karena ingin jujur. Dan kejujuran menyudutkanmu untuk mengakui kamu mulai ragu.

Dialah bagian terbesar dalam hidupmu, tapi kamu cemas. Kata ‘sejarah’ mulai menggantung hati-hati diatas sana. Sejarah kalian. Konsep itu menakutkan sekali.

Sejarah memiliki tampuk istimewa dalam hidup manusia, tapi tidak lagi melekat utuh pada realitas. Sejarah seperti awan yang tampak padat berisi tapi ketika disentuh menjadi embun yang rapuh.

Skenario perjalanan kalian mengharuskanmu untuk sering menyejarahkannya, merekamnya, lalu memainkannya ulang di kepalamu sebagai Sang Kekasih Impian, Sang Tujuan, Sang Inspirasi bagi segala mahakarya yang termuntahkan ke dunia. Sementara dalam setiap detik yang berjalan, kalian seperti musafir yang tersesat dipadang. Berjalan dengan kompas masing-masing, tanpa ada usaha saling mencocokkan. Sesekali kalian bertemu, berusaha saling toleransi atas nama Cinta dan Perjuangan yang Tidak Boleh Sia-sia. Kamu sudah membayar mahal untuk perjalanan ini. Kamu pertaruhkan segalanya demi apa yang kamu rasa benar. Dan mencintainya menjadi kebenaran tertinggimu.

Lama baru kamu menyadari bahwa Pengalaman merupakan bagian tak terpisahkan dari hubungan yang diikat oleh seutas perasaan mutual.

Lama bagi kamu untuk berani menoleh ke belakang, menghitung, berapa banyakkah pengalaman nyata yang kalian alami bersama ?

Sebuah hubungan yang dibiarkan tumbuh tanpa keteraturan akan menjadi hantu yang tidak menjejak bumi, dan alasan cinta yang tadinya diagungkan bisa berubah menjadi utang moral, investasi waktu, perasaan, serta perdagangan kalkulatif antara dua pihak.

Cinta butuh dipelihara. Bahwa didalam sepak-terjangnya yang serba mengejutkan, cinta ternyata masih butuh mekanisme agar mampu bertahan.

Cinta jangan selalu ditempatkan sebagai iming-iming besar, atau seperti ranjau yang tahu-tahu meledakkanmu-entah kapan dan kenapa. Cinta yang sudah dipilih sebaiknya diikutkan di setiap langkah kaki, merekatkan jemari, dan berjalanlah kalian bergandengan… karena cinta adalah mengalami.

Cinta tidak hanya pikiran dan kenangan, Lebih besar, cinta adalah dia dan kamu. Interaksi. Perkembangan dua manusia yang terpantau agar tetap harmonis. Karena cinta pun hidup bukan cuma maskot untuk disembah sujud.

Kamu ingin berhenti memencet tombol tunda. Kamu ingin berhenti menyumbat denyut alami hidup dan membiarkannya bergulir tanpa beban.
Dan kamu tahu, itulah yang tidak bisa dia berikan kini. Hingga akhirnya…

Di meja itu, kamu dikelilingi tulisan tangannya yang tersisa ( kamu baru sadar betapa tidak adilnya ini semua. Kenapa harus kamu yang kebagian tugas dokumentasi dan arsip, sehingga cuma kamulah yang tersiksa?).
Jangan heran kalau kamu menangis sejadi-jadinya.
Dia, yang tidak pernah menyimpan gambar rupamu, pasti tidak tahu apa rasanya menatap lekat-lekat satu sosok, membayangkan rasa sentuh dari helai rambut yang polos tanpa busa pengeras, rasa hangat uap tubuh yang kamu hafal betul temperaturnya.

Dan kamu hanya bisa berbagi kesedihan itu, ketidak-relaan itu, kelemahan itu, dengan wangi bunga yang melangu, dengan nyamuk-nyamuk yang putus asa, dengan malam yang pasrah digusur pagi, dengan detik jam dinding yang gagu karena habis daya.

Sampai pada halaman kedua suratmu, kamu yakin dia akan paham, atau setidaknya setenagh memahami, betapa sulitnya perpisahan yang dilakukan sendirian.

Tidak ada sepasang mata lain yang mampu meyakinkanmu bahwa ini memang sudah usai. Tidak ada kata, peluk, cium, atau langkah kaki beranjak pergi, yang mampu menjadi penanda dramatis bahwa sebuah akhir telah diputuskan bersama.

Atau sebaliknya, tidak ada sergahan yang membuatmu berubah pikiran, tidak ada kata ‘jangan’ yang mungkin, apabila diucapkan dan ditindakkan dengan tepat, akan membuatmu menghambur kembali dan tak mau pergi lagi.

kamu pun tersadar, itulah perpisahan paling sepi yang pernah kamu alami.

Ketika surat itu tiba di titiknya yang terakhir, masih akan ada sejumput kamu yang bertengger tak mau pergi dari perbatasan usai dan tidak usai. Bagian dari dirimu yang merasa paling bertanggung jawab atas semua yang sudah kalian bayarkan bersama demi mengalami perjalanan hati sedahsyat itu. Dirimu yang mini, tapi keras kepala, memilih untuk tidak ikut pergi bersama yang lain, menetap untuk terus menemani sejarah. Dan karena waktu semakin larut, tenagamu pun sudah menyurut, maka kamu akan membiarkan si kecil itu bertahan semaunya.

Mungkin, suatu saat, apabila sekelumit dirimu itu mulai kesepian dan bosan, ia akan berteriak-teriak ingin pulang. Dan kamu akan menjemputnya, lalu membiarkan sejarah membentengi dirinya dengan tembok tebal yang tak lagi bisa ditembus. Atau mungkin, ketika sebuah keajaiban mampu menguak kekeruhan ini, jadilah ia semacam mercusuar, kompas, Bintang Selatan… yang menunjukan jalan pulang bagi hatimu untuk, akhirnya, menemuiku.

Aku, yang merasakan apa yang kau rasakan. Yang mendambakan untuk mengalami. Aku, yang telah menuliskan surat-surat cinta padamu. Surat-surat yang tak pernah sampai.

[ FILOSOFI KOPI – Dee ]

« Older entries